Setengah tahun, negeri ini ada di bawah air.
Sudah duduk? Lihat ke layar. Ini The Wallow. Tiap musim hujan dataran ini tenggelam sampai pucuk pohon, dan baru kering lagi enam bulan kemudian. Orang sini berangkat bersama kawanan begitu air mulai naik.
Dua belas tempat singgah memisahkan banjir dari padang kering di selatan.
Kota ini berjalan di atas kerbau.
Ninety Backs dibangun di punggung sembilan puluh kerbau air raksasa. Rumah, pasar, dan sekolah diikat di pelana anyaman. Setiap tahun kawanan menyeberangi banjir selama 40 hari, dan kota ikut bergoyang di atasnya. Anak-anak belajar menulis sambil menjaga tinta supaya tidak tumpah.
Lalu ada Dumble. Waktu cerita dimulai, dia masih anak kerbau yang muat dipeluk. Sepanjang jalan dia tumbuh tiga kali, dan di babak terakhir punggungnya cukup lebar untuk kamu tunggangi di tengah pertarungan.


Sekarang, pindah ke belakang layar.
Dari kursi penonton kamu cuma melihat warna yang tembus kain. Balik layarnya, dan lihat siapa yang sedang dimainkan.
Kesi
Ada yang memanggil dari air dalam.
Old Ironhorn sudah memimpin kawanan lebih lama dari umur kota. Tanduknya diikat besi oleh kakek buyut Obed. Suatu pagi dia berhenti, mendengarkan sesuatu, lalu berbelok ke arah yang dalam.
Separuh kawanan ikut, separuh lagi bertahan, dan kota mulai terbelah di tengah banjir. Kesi tidak menunggu rapat tetua. Dia naik ke punggung Dumble dan berangkat duluan, mencari jalan yang aman dan alasan Old Ironhorn berbelok.
Di bawah sana ada belut rawa sebesar perahu dan roh alang-alang yang hafal suara ibumu. Lebih dalam lagi, ada sesuatu yang tahu nama Old Ironhorn.
Air naik setiap giliran.
Kamu memimpin party melawan Murkcoil, belut rawa yang menjaga jalan ke selatan. Pilih anggota, lalu pilih aksi. Setelah tiap giliran garis air naik satu tingkat. Setinggi lutut, serangan biasa melambat. Setinggi dada, api padam. Isi Herd Call sampai penuh, lalu panggil kawanan.
Murkcoil menyelam
Party
Aksi untuk Kesi
Giliran pertama. Air masih kering. Pilih anggota party lalu pilih aksinya.





